Industri Media Digital Yang Menjanjikan

Industri Media Digital Yang Menjanjikan – Meskipun mempunyai tantangan yang sangat besar, bisnis media digital dinilai memiliki masa depan atau future yang sangat menjanjikan. Ekosistem industri media digital dinilai telah tumbuh secara perlahan.

CEO Berita satu Media Holding yang bernama Anthony Wonsono mengatakan bahwa ada nya ekosistem yang sudah berkembang, ke depan konsumer digital akan semakin meningkat. Oleh sebab itu, pada saat ini semua media mulai beralih dari media konvensional ke media digital.

“Secara keseluruhan, media digital akan tetap menjanjikan. Ini kesempatan besar kita bisa terus inovasi,” kata Anthony Wonsono, CEO Beritasatu dalam diskusi Rakernas Asosiasi Media Siber Indonesia atau yang biasa disingkat dengan singkatan AMSI di Perpustakaan Nasional, https://www.queenaantwerp.com/

Industri Media Digital Yang Menjanjikan

Oleh karena itu, Anthony Wonsono mengingatkan bahwa media konvensional harus berbenah untuk menghadapi era industri digital. Alasannya, Anthony Wonsono mengatakan bahwa, setiap bisnis akan mati kalau bisnis tersebut tidak mengikuti tren, baik itu tren teknologi, tren ekonomi, dan juga tren politik.

Menurut Anthony Wonsono, salah satu cara media untuk bertahan dalam ekosistem digital seperti saat ini adalah dengan cara mengembangkan sistem berlanggganan atau yang biasa disebut dengan sebutan subscribe. Anthony Wonsono percaya bahwa di Indonesia pada suatu waktu akan fokus ke sistem berlangganan itu.

“Ekosistem kita memang beda. Akan tetapi beberapa media tertentu yang mulai mengarah ke sana. Kita bisa masuk itu dengan nyaman,” kata Anthony Wonsono.

Ketua Asosiasi dari Media Siber Indonesia atau yang biasa disingkat AMSI yang bernama Wenseslaus Manggut mengatakan bahwa tujuan diadakannya diskusi dalam Rakernas AMSI tahun 2019 ialah untuk menyusun program organisasi itum dengan begitu, program yang dilaksanakan dapat menjawab kebutuhan industri digital.

“Makanya kita buat seminar ini untuk menjawab harapan dari pebisnis, pemerintah, media, yang mereka inginkan seperti apa yang bisa jadi partner. Kita juga mendengar dari para investor, mereka tertarik investasi model bisnis media seperti apa?” kata dia.

Dia mengakui, hingga pada saat ini media siber memang belum teralu dilihat sebagai industri yang menjanjikan. Pasalnya, media siber di Indonesia pada saat ini belum banyak paham mengenai sistem monetesasu seperti apa.

“Itu semua dijelaskan dalam seminar, nanti kita susun dalam program. Mungkin akan kita putuskan program pelatihan monetesasi bagi semua anggota,” kata dia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan industri media nasional dapat maju dan berkelanjutan dalam lanskap global. Menurutnya, industri media tidak cukup hanya mengandalkan integritas akan tetapi juga harus dipadukan dengan integrasi media dalam skala global.

“Sesuai dengan maksud dari Konvensi ini, tidak hanya integritas akan tetapi lebih merupakan integrasi media dalam lanskap global, sesuai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi pada saat ini,” kata Rudiantara saat menjadi pembicara dalam hari Peringatan Hari Pers Nasional yang Konvensi Nasional Media Massa dengan tema “Integritas Media Nasional dalam Lanskap Komunikasi Global: Peluang dan Tantangan”, di Ambon.

Rudiantara menambahkan, tantangan pasar global yang saat ini semakin mengarah pada sektor teknologi informasi dan komunikasi atau yang biasa disingkat dengan singkatan TIK. Tantangannya pada saat ini adalah pemanfaatan peluang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin maju dan populer, karena kapitalisasi pasar perusahaan global saat ini semakin mengarah kepada sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Sementara itu di Indonesia, perkembangan pasar Indonesia saat ini lebih ke arah accessible dan consumerable markets, di mana konsumsi HP dan smartphone sudah begitu besar, dan akan semakin meningkat, lebih banyak dari rekening bank, sehingga Indonesia dilihat oleh dunia sebagai sizeable captive market,” terang Rudiantara.

Rudiantara juga memaparkan agar dimanapun dan pasar apapun di Indonesia harus bisa accessible dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), oleh karena global sedang melihat Indonesia. “Bagaimana pasar wisata dimanapun di Indonesia dapat diakses oleh wisatawan dari manapun secara global,” jelas Rudiantara.

Oleh sebabt itu, Rudiantara melanjutkan bahwa, tugas pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur jaringan telekomunikasi demi mendukung kesiapan saat ini.

“Harus diterapkan affirmative policy. Maka kita bangun Palapa Ring sebagai tol informasi berbasis jaringan fiber optik yang harus masuk sampai Natuna, Miangas, dan lainnya yang sangat strategis,” tegas Rudiantara.

Disamping membangun kesiapan infrastruktur, lanjutnya, yang perlu dipastikan adalah jangan sampai saat infrastruktur siap, justru pihak asing yang lebih mengambil pangsa pasar konten. “Kita memang tidak bisa melakukan restriksi atau pembatasan, akan tetapi kita dorong equal treatment dan equel level antara OTT global dan OTT nasional, setidaknya dalam customer service harus adanya kebutuhan pelayanan bagi pengguna di Indonesia, data protection, fiskal atau pajak,” kata Rudiantara.

Kemudian masih terdapat dua tantangan lainnya, yaitu tantangan kreativitas, termasuk bagaimana pemanfaatan data warehousing dan data mining oleh pelaku usaha nasional, serta tantangan regulasi di mana kita sendiri harus mampu atau harus dapat menyiapkan regulasi akan tetapi harus bersifat less regulation.

Chairman CT Corp Chairul yang bernama Tanjung menyebutkan bahwa industri media pada saat ini masuk ke babak baru, zaman kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan inilah yang membuat media agar bisa memberikan konten yang dipersonalisasi untuk pembacanya.

Industri Media Digital Yang Menjanjikan

Dengan kecerdasan buatan, media dapat membaca kebiasaan baca penggunanya, kemudian hasil analisa behaviour tersebut digunakan untuk menyajikan topik-topik bacaan yang memang ia minati.

“Personalized content (memanfaatkan) artificial intelligence. Dengan data yang diterima, media digital bisa tahu. Ada algoritma yang bisa memprediksi, jadi berita yang dibikin (disajikan) bener-bener personalized yang disukai dan dicari oleh pembaca,” tuturnya

Dengan adanya tantangan baru ini, maka Chairul menyebutkan bahwa media sekali lagi perlu berevolusi. Oleh karena, evolusi adalah keniscayaan yang harus dihadapi seiring dengan kemajuan zaman.

Oleh sebab itu ia berharap para pelaku industri media dapat memahami peta jalan pengelolaan media digital ke depan sehingga bisa mengatur strategi untuk memenangkan kompetisi.

Sebab, menurut Chairul dalam era digital ini menjadi pemenang berarti menguasai sebagian besar pasar. Karena, mereka yang berhasil menempati posisi puncak bisa menguasai sekitar 70 persen pasar, nomor 2 sekitar 20 persen market, dan sekitar 10 persen pasar sisanya dibagi-bagi kepada sisa pemain.

“Ini adalah keniscayaan sekarang, sehingga mesti pintar pintar membaca peluang,” tegas Chairul.

Sebab, tanpa evolusi Chairul percaya, sulit bagi media untuk bertahan.  Chairul mencontohkan bagaimana Kompas dan Jawa Pos berhasil melampaui perubahan zaman dari era media cetak menjadi media online.

“Kita tahu Kompas, Jawa Pos dulunya koran. Akan tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak akan survive kalau terus bertahan. Harga kertas terus naik, oplah menurun, iklan berkurang, mau gau movement. Mereka lantas membuat kompas.com, jawapos.com. semua outlet sekarang membuat .com. dan ini adalah proses metamorfosanya,” tandas Chairul.